Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 November 2014

ADA APA DENGAN CINTA? - 2014 : MOVE ON


RANGGA

Orang-orang di sekitarnya mengatakan ia laki-laki yang misterius. Mereka bertanya mengapa kau begini, mengapa kau begitu. Keras kepala, itu membuat alasan yang harusnya diungkapkan menjadi hal yang kabur, tak dimengerti orang lain. Kemudian ia memilih lebih banyak diam saat ditanya pertanyaan yang jawabannya akan membuat orang lain meneruskan pertanyaannya.

New York, bulan kesebelas, tanggal 8, dini hari.

Rangga masih terbangun. Banyak barang-barang vintage di kamarnya tapi ia bekerja dengan Mac Mini bukan mesin ketik. Ia memeriksa beberapa hasil jepretannya dan mengelompokkannya dalam folder-folder terpisah. Itu pekerjaan yang tak berat dilakukan di dini hari, tak membutuhkan kuota berpikir yang banyak.

Minggu, 07 September 2014

Mata dan Mata

“Itu warna hijau?”
“Benar, kadang-kadang ada juga yang bilang itu biru. Tak semua orang belajar nama-nama warna dengan benar padahal mereka tak buta warna.”
“Kata-katamu benar, ibuku mengira warna nila itu warna oranye..”

Pria 1 membelakangi temannya, melangkah ke arah sebuah pohon di atas sebuah mangkuk kecil. Pohonnya besar sekali, daun-daunnya juga lebat dengan warna hijau segar. Seharian dia di sana, sementara temannya pergi ke lain arah. Saat dataran menjadi lengkungan, temannya itu datang. Ia tampak sedikit berbeda, badannya berwarna lebih banyak lagi.

“Hai, lihat daun hijau segar itu..”
“Itu warna kuning sahabatku,” Pria 2 lalu tersenyum.
“Kau pasti buta warna…”
“Tidak..”
“Buta warna sebagian?”
“Tidak juga..”

Pria 2 menjauhi temannya, dua langkah ke depan dan satu langkah ke kanan. Ia menatap ke temannya. Mereka berdua saling bertatapan seperti sepasang kekasih yang sedang bingung dengan perasaan mereka satu sama lain. Kedua bola mata yang saling berpasangan itu memberikan pantulan yang berbeda, pantulan Pria 1 dan pantulan Pria 2 berkebalikan.

“Mari bertukar pandangan,” kata Pria 2.

Pria 1 mencolok kedua matanya sampai ke luar. Dua bola matanya ia lemparkan pada temannya, begitu juga sebaliknya.
Pria 1 memasang mata temannya ke dalam lubang matanya, begitu pula Pria 2 memasang mata Pria 1 dengan mulut tersungging. Ada rasa geli saat mencoba memasang lagi mata-mata yang mungkin terkontaminasi debu saat dilempar tadi.

“Bagaimana?” Pria 2 berkata.
“Kau tampak jelek di matamu sendiri, padahal tadi aku mengira engkau tampan sekali.”

Pria 2 kembali tersenyum, lalu melihat lagi ke arah pohon besar di atas mangkuk kecil yang tak jauh adanya dari mereka.
“Daun itu benar berwarna hijau seperti yang kau katakan tadi…,” kata Pria 2.

Pria 1 mengerutkan dahinya, di matanya, daun pohon besar-mangkuk kecil itu tampak berwarna kuning. Ya, warna kuning yang itu.
Mereka berpisah, Pria 2 memilih duduk menemani pohon besar itu. Pria 1 memilih pergi menjauh, mata-mata yang mereka bawa sekarang berbeda. Mata yang membuat jalan hidup mereka berkebalikan satu sama lain.



Rabu, 06 Agustus 2014

Cerpen: 1 Agustus (2)

7 Agustus, pagi-siang.
Nugus berangkat. Berangkat juga ke luar rumah karena tak tahan dengan nasehat dan sindiran. Ia berjalan saja, tak ada motor atau sepeda. Di sakunya tak ada dompet, hanya uang sepuluh ribuan. 
"Aku masih ingin jadi penyair, tapi..." Dia menoleh ke gelandangan yang menghitung uang di dalam gelas plastik. Bahkan uang gelandangan itu lebih banyak dari yang Nugus punya. 

Nugus menghentikan langkah sandal jepitnya di warung rokok, membeli permen. Duduk-duduk di bangku kayu keropos sambil mengulum permen berwarna kuning rasa durian. Murah hanya seratus rupiah. 

Seiring angin kecil pergi, seorang kakek tua datang membawa dagangannya. Mainan dari botol plastik bekas yang dirakit menjadi lampion kecil. "Lampion plastik murah.." Ia menoleh ke arah Nugus berusaha menawarkan. Nugus menggeleng. 


"Anak muda, jangan berpangku tangan. Uang sembilan ribu sembilan ratus di sakumu itu bisa beranak. Bukan lewat dukun tapi lewat ber-USAHA. Wirausaha. Pasti kau bingung caranya. Nah, baca buku berikut ini!"


dan yang akan terbit 2NDPRENEURSHIP.

COMING SOON
Beruntungnya Nugus, seorang malaikat baru saja memberi petunjuk.

Kamis, 31 Juli 2014

Cerpen : 1 Agustus (1)

1 Agustus

aku bukan Brutus
juga tak suka tali putus
bukan juga diutus
datang kemari tak bermuka ketus
Aku Nugus, lahir 1 Agustus

"Jangan kau menulis puisi yang aneh-aneh, jika itu ditulis Chairil Anwar atau Sutardji Calzoum Bachri mungkin akan berarti..tapi kau siapa? sudahlah carilah pekerjaan yang benar.. cuci rambutmu atau mukamu.."

Nugus tak bergeming. Ia tetap duduk di depan mejanya. Memegang pensil di tangan kanan dan mencengkeram rambut keritingnya di tangan kiri.

***

Minggu, 01 Juni 2014

Sam dan Nora


Sam memutar kamera kecil di tangannya. Wajah teman perempuannya itu terlihat tersenyum. Daun Hazel  yang menempel di atas rambutnya tampak seperti jepit atau hiasan rambut.
“Cepatlah!” kata Nora.
Sam segera menekan sebuah tombol. Sebuah gambar kemudian dihasilkan.  Pemandangan yang lumayan indah. Ada hijau, cokelat, pirang, merah muda, tersusun rapi—alam dan manusia. Nora kemudian menghampiri Sam. Langkahnya tampak kasar bagi seorang gadis. Daun di rambutnya kemudian jatuh ke tanah, rasanya ingin Sam tahan saja di rambut gadis itu.
“Bagus?”
“Ya.”
Sam mengarahkan pandang ke arah lain. Ia merasa tak nyaman berada di dekat Nora akhir-akhir ini. Gadis itu sudah berubah sekarang.  Rambutnya masih sama, masih rambut pendek-pirang yang selalu rutin dipotong setiap bulan. Wajahnya juga masih sama, sama merah muda kulitnya. Tapi, tubuhnya tak sama lagi.
Sam menggaruk bagian atas kepalanya, masih ada bekas luka kecil itu. Sebuah luka yang dibuat oleh sahabatnya sekarang, gadis tomboy itu. Semasa kecil, mereka bermain dengan sedikit kasar. Nora dulu lebih besar dari Sam. Nora bahkan sering menyiksanya.
“Biarkan aku yang memotretmu sekarang!” kata Nora.
“Aku tak suka difoto.”
“Tapi aku ingin! Sekali saja.”
Sam berdiri di rerumputan basah. Di belakangnya ada sebuah kastil besar, kastil Malahide.
“Ya, berdiri di sana. Pemandangannya bagus!”
Sam mencoba tersenyum. Jaket Nora turun sebelah, kaos di dalamnya tampak talinya. Senyumnya jadi tertahan.
“1, 2, 3!”
Mereka kembali berjalan di sekitar kastil. Sam merasa lelah tapi Nora tampaknya bersemangat sekali. Langkah kakinya berkali-kali meninggalkan Sam yang berkecepatan lebih rendah. Di kanan-kiri mereka banyak pepohonan yang rimbun, bunga-bunga yang menengadahkan kepalanya ke atas, mencari matahari.
“Ayolah jangan berjalan lambat!”
“Kau yang terlalu cepat. Nikmati sekelilingmu.”
Nora merengut dan menghentikan langkahnya, menunggu Sam yang berjalan seperti seorang pemalas. Ia heran mengapa Sam hari ini tampak tak bersemangat. Sam selama ini selalu berusaha mengimbanginya. Mengimbangi kelelakian dalam tubuh perempuannya. Sam suka bersepeda sehingga kuat kakinya tak akan kalah dari Nora yang suka bela diri. Sam juga membiarkan rambutnya berantakan sehingga wajah imutnya itu tak terlalu tampak sama dengan Nora yang perempuan.
Sam kembali mengangkat kameranya. Kali ini sejajar tak diputar, wajah Nora yang cemberut itu ia pantulkan di kameranya. Cemberut Nora bertambah.
“Aku belum siap dipotret!”
“Hah? Sejak kapan kau memperhatikan penampilanmu?”
“Aku selalu memperhatikan. Buktinya rambutku selalu kujaga sependek ini.”
Gadis yang aneh, pikir Sam. Rasa di dadanya seperti mau meledak saja. Ia benar-benar tertarik dengan gadis di depannya. Beberapa kali ia selalu membuang jauh-jauh perasaan itu karena menurutnya Nora bahkan lebih jantan darinya. Ada Rob juga, teman Nora yang tampak sangat lelaki. Ia lebih pantas menjadi pacar Nora daripada Sam. Sedikit berambut di mukanya, dengan tinggi yang tak wajar untuk remaja. Sam merasa kalah jauh.
Nora menghampiri sebuah semak-semak. Mencoba menyentuh sebuah bunga satu-satunya di semak-semak itu.
“Bunga ini tampak bagus, potretlah!” kata Nora.
Sam terdiam sejenak. Ia tak menuruti perintah Nora, kali ini kameranya ke atas. Ke arah langit yang sedang terbentang lebar. Biru-biru dengan bintang-bintang tak terlihat. Seperti ada awan-awan merah muda. Wajah perempuan Nora.
“Kau bosan berteman denganku?” tanya Nora.
“Sepertinya begitu. Ini sudah terlalu lama.”
“Hmm, kau tak menyukaiku kan?” tanya Nora.
“Andai rambutmu panjang...”
“Sudahlah, kita pulang.”


(untuk @kampusfiksi #Kalimatpertama)

Minggu, 02 Maret 2014

CERPEN: RUMAH

Hoam… matanya sudah tak kuat lagi. Ngantuk!, ya sebagai seorang pelajar acara mengantuk di kelas memang menjadi hal yang rutin dilakukan. Sama halnya dengan Rama. Pelajaran Biologi tentang perkembangan makhluk hidup menjadi hal yang membosankan. Sebenarnya Rama suka sekali belajar tapi tidak untuk siang ini. Matanya sudah merah karena dipaksa untuk terbuka.
Rama beranjak dari kursi paling belakang. Berjalan lunglai ke Pak Wito.
“Pak saya ijin ke belakang..”
Rama berjalan dengan mata mengantuk. Kamar kecil di capainya dengan buru-buru. Selain buang air kecil dia juga ingin cuci muka.
What the…” kata Rama dalam hati.
Di dekat kamar mandi ada dua orang adik kelasnya. Berpegangan tangan dan berbisik-bisik.
“Astajim…” Rama berkata sambil buru-buru masuk ke kamar kecil.
Air kran di kamar kecil itu mengalir tak semestinya. Arahnya tak kebawah lagi, tapi ke samping. Setelah buang air dan cuci muka Rama segera ke kelasnya.
Saat istirahat Rama memilih pergi ke ruang Pramuka. Dia tidur disana. Rama adalah ketua Pramuka di sekolahnya, jadi dia yang memegang kunci ruangan itu.
Ada kursi panjang yang bisa dibuat tiduran di ruang itu. Ada juga meja kayu dan beberapa kursi yang biasanya digunakan untuk rapat. Beberapa peralatan untuk Pramuka juga ada di sana. Tongkat, tenda, pisau kecil, dan beberapa peralatan lain di taruh di dalam lemari.
“Ehem…Bapak ketua..,” suara seseorang terdengar sayup di telinga Rama.
Rama membuka mata, ada seorang gadis berkerudung di depannya. Rama bangkit dari kursi panjang itu dan menggeliat.
“Apa Ran?” tanya Rama pada Rani, gadis berkerudung itu.

Rabu, 02 Januari 2013

CERPEN : ADA TEMAN DI BALIK PELANGI


“Buku cerita itu hanya bohong kok..,” kata sang kakak.
Adiknya terus murung. Ada pelangi sore itu, teringat di buku cerita itu bahwa ada teman di balik pelangi.
“Aku ingin pergi ke sana..,” kata sang adik.
“Baca akhir cerita itu, bukannya sebenarnya tak ada teman dibalik pelangi..,” kakaknya mulai sebal. Dari seminggu yang lalu adiknya selalu berkata, jika ada pelangi aku ingin pergi kesana. Mungkin disana ada teman.

Sabtu, 29 Desember 2012

CERPEN : CERITA SAMPAH



Sampah, apa dia?. Aku adalah dirinya, sebuah sampah. Berikut ini cerita perjalananku.
Terminal Bayualun masih sepi, ya ini masih subuh. Belum banyak orang yang berkumpul disini. Tapi beberapa warung rupanya sudah buka, entahlah apa mereka juga buka 24 jam sehari seperti minimarket modern itu. Sebuah warung menyalakan televisi, tampaklah gambar pemain-pemain sepak bola berlari kesana kemari menggiring bola. Orang-orang di depan televisi itu tak begitu semangat memperhatikan. Itu pertandingan biasa, bukan antar klub-klub ternama.
Di samping warung itu ada sekelompok pemuda. Bajunya gelap-gelap, senada dengan kulit mereka yang juga gelap. Beberapa alat musik buatan sendiri tergeletak di antara mereka. Beberapa waktu lalu mereka bernyanyi-nyanyi lagu gaul berbahasa daerah dengan penuh semangat, sekarang mereka sudah capek. Beberapa dari mereka malah terkantuk-kantuk.

Kamis, 27 Desember 2012

KUMCER : Suatu Hari di Negeri Makanan (Part 1)


Gratis download kumpulan cerpen anak (3 cerpen ) bertajuk "Suatu Hari di Negeri Makanan (Part 1)"

Daftar isi :

  1. Petualangan Guling Ajaib
  2. Pukis Berlibur ke Pantai
  3. Hamburger, Si Pemalas?


Klik pada gambar




CERPEN : SANG DERMAWAN


Matahari terik, bumi masih berjalan dan mengayun-ayun orang-orang yang berlawanan arah dengannya. Seorang bapak tampak rapi dengan kemeja santai dan celana jahitan yang disetrika dengan baik. Dia mengobrol dengan montir mobil di sebuah bengkel dekat dengan tempat dia bekerja.
Pak Abdul, namanya. Sehari-hari dia mengurusi berkas-berkas mahasiswa yang ada di sebuah universitas swasta. Tampilannya yang hangat membuat banyak orang mudah akrab dengannya. Murah senyum, dengan kumis lebatnya senyumnya membuatnya semakin berwibawa. Mungkin dia bukan dosen yang menulis jurnal-jurnal ilmiah, atau pejabat tinggi yang punya banyak wewenang, tapi auranya sudah cukup membuat orang-orang disekelilingnya tertunduk-tunduk tanda menghormati. Faktor umur mungkin juga menjadikannya dihormati seperti itu. Sudah hampir pensiun.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...